Posts Tagged kuliah

2 years.. is done

bismillah..

alhamdulillah..

defense telah terlewati.. 🙂

tinggal revisi2 dikit.. 😀

Advertisements

,

2 Comments

Sun Moon Cheonan Campus

bismillah..

Untuk pertama kalinya setelah satu tahun di Sun Moon.. gua berkunjung ke kampus Cheonan.

🙂

Ya.. males jalan2.. baru sekarang2 aja mulai agak narsis2an.. bareng si bos and Acul.

Kirain kampusnya gede.. hehe.. tapi ternyata cuman ada 2 gedung utama.. yaitu gedung kampus dan gedung asrama. Bener2 gak nyangka.. 😀

Cheonan Campus Main Building

Cheonan Campus Main Building

Keliatan gaya tua banget…. nanti kita liat.. bagian paling “creepy” dari kampus ini… hihi

Pose.. in front of the building..

Pose.. in front of the building..

Poto narsis abis si acul

Poto narsis abis si acul

Di situ banyak orang jepun.. beuh.. kalo di situ rasanya gak kayak di korea kali ya.. kkk.

Terus.. ini nih poto paling serem.. ada lorong gitu di lantai satu.. mungkin tiap lantai kayak gitu.. hiiiii… suerem abis.. apalagi pintu keluarnya.. kotak2.. kayak di rumah sakit jiwa or gedung berhantu.. beuh.. bergidik deh pokoknya.

Creepy hall

Creepy hall

Masih creepy gak nih?

Creepy hall featuring Hasul.. :P

Creepy hall featuring Hasul.. 😛

Peace cul.. ahaks2..

~keptInSilence

,

Leave a comment

Kimbabel madelkayou.. ^^

,

Leave a comment

Take a bath

bismillah..

I think I need to take a bath.. ew… :& ..

~postLater

Leave a comment

what a day..

bismillah..

Sepuluh menit yg lalu hari telah berganti menjadi 14 April. Di tengah2 bulan sebelum batas akhir pembuatan project VDEES *still hanging in my head :(* .

Hari kemaren.. bukan hari terbaik.. dan memang tidak ditargetkan untuk jadi yg terbaik.

Tugas gua yg dah telat dari hari jumat, sekarang masih dalam status x+alpha .. dengan alpha = 0.0001 -_-‘

Project VDEES gua kagak ada progress.. tadinya mau dikerjaain pas hari sabtu or minggu kemaren, tapi gua mendapat demam.. yg bikin badan gua susah gerak. Sekarang pun masih agak terasa kaku2 gimana gitu. 😦

Okeh.. gua tadinya pengen nge-quote or nulis sedikit pemikirin, tapi keknya gak mood jg.. first thing first. Kerjain tugas dulu deh baru gua update lagi. Lom ada pelem yg menarik jg buat dibahas, no movie for this week.. dan jg gak ada hal yg cukup berkesan.

Okay.. i’m out for today. See you around.. 😉

Leave a comment

Presentation Day

bismillah..

There are two days in every week that makes my feeling chilled..

Tuesday and Friday.. 😀

Why? because on those days.. reports of progress or paper presentation should be delivered.
And.. ew.. I got confused of what I’m going to report. Sometimes no progress *because of my lack of understanding of the project* and sometimes.. yes.. there is a small progress.. LOL

But i kept on trying.. I’ve got only one and a half year here.. I should make something special, something great, something memorable. I have to try and study hard and not making all my efforts and my friends’ effort wasted.

There will be a way.. yes there will

~boboDuluAhXD
~lomSelesaiBacaPaper

,

3 Comments

Harga Diri bukan diukur oleh Indeks Prestasi

DISCLAIMER:

Karena banyak yang mengira saya yang menulis artikel ini, maka saya tegaskan bahwa bukan saya yang menulis. Saya hanya co-pas dari blog twentea.com.

Selamat menikmati 🙂

 

http://www.twentea.com/2009/01/19/pemenang-1-riak-hadiah-harga-diri-bukan-diukur-oleh-indeks-prestasi/

Pemenang 1 Riak Hadiah: Harga Diri Bukan Diukur Oleh Indeks Prestasi

Senin, 7 Agustus 1995, sehari setelah ulang tahun saya yang ke-21, berkumpul orang-orang di depan Aula Kantor Pusat (AKP), IPB, melihat pengumuman kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Beberapa orang memberikan selamat kepada saya. “Selamat ulang tahun”, “Panjang umur ya…” Saya dengan biasa menyambut mereka. Mengucapkan terima kasih. Fokus saya tertuju pada pengumuman di tembok gedung AKP.

Melihat papan pengumuman dan mengurut no. registrasi mahasiswa, saya berhenti pada G.290071—itu nomor mahasiswa saya—Program Studi Ilmu Komputer,  jari saya bergerak ke kanan dan menemukan kata-kata: KELUAR….!
DROP OUT… DROP OUT.

Beneran, saya DROP OUT dari IPB.

Dunia rasanya gelap, perut mual, saya limbung. Membaca sekali lagi, dan kata-kata KELUAR masih tertulis disitu. Saya DROP OUT. Seumur hidup saya, inilah hadiah ulang tahun yang paling “mengesankan”.

Segera saya datangi Pak Andi Hakim Nasution (sudah almarhum),  Dekan FMIPA saat itu. Apa yang beliau bilang?

“Orang-orang seperti kamu tidak pantas kuliah di IPB”

Saya makin limbung.

Saya datangi Bapak Julio, dosen Bahasa Pemrograman yang memberikan nilai F, dan membuat nilai indeks prestasi kumulatif saya menjadi 1.98, hanya kurang 0.02 untuk selamat dan tidak drop out. Apa yang Pak Julio bilang?

“Saya juga dulu drop out waktu kuliah di Inggris…”

Saya bingung. Apakah masalah pribadi bisa ditimpakan kepada orang lain?

Saya datangi Bapak Abdurrauf Rambe, Ketua Jurusan. Saya protes karena teman saya—Tulus—yang menggunakan kursi roda, ternyata ‘selamat’, dan mendapatkan dispensasi untuk tetap kuliah, tidak jadi drop out. Pak Rambe hanya bilang (ini juga yang menyakitkan saya),

“Tulus itu cacat (dia menggunakan sepeda motor berdoa tiga dan tongkat kalau kuliah-red), kamu mau disamakan dengan orang cacat. Sebenarnya IPB tidak layak menerima mahasiswa cacat seperti dia…”

Saya marah!
Marah semarah-marahnya, bagaimana mungkin seorang pendidik mengucapakan kata-kata menyakitkan seperti itu.

Sejak itu, saya mengubah pola berpikir saya, bukan saya yang tidak layak kuliah di IPB, tapi IPB tidak layak menjadi tempat saya menuntut ilmu; dengan pola pikir pengajar yang menganggap orang-orang yang memiliki handicap, baik fisik maupun kepintaran, dikatakan tidak semestinya ada di IPB.

Sejak itu saya tidak lagi berusaha untuk menjadi mahasiswa IPB. Saya tidak mau memaksakan diri meminta rekomendasi ini dan itu, agar selamat dari IPB, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang teman saya yang memiliki sanak saudara yang menjadi pejabat di IPB.

Saya Pulang

Saya bersimpuh di pangkuan orang tua, menangis sejadi-jadinya. Menangis karena telah melukai dan membuat kecewa hati orang tua yang mengerahkan segenap tenaga untuk membiayai kuliah saya di IPB. Dari 7 anaknya, saya adalah anak ke-dua yang bisa melanjutkan pendidikan hingga tingkat sarjana.

Besoknya saya mendatangi Bapak Ansroi Mattjik (sekarang Rektor IPB), dan meminta untuk diberikan transkrip agar bisa melanjutkan studi di perguruan tingggi lain.

Dua minggu saya mencari kampus, dengan uang seadanya, saya naik kereta ke Jogya, menuju kampus UGM, INSTIPER, ke Solo menuju UNS, kemudian ke Malang menuju UNIBRAW, dan ke Bandung menuju IKIP (sekarang UPI).

Pulang dari Bandung, saya ke tempat kost kawan saya, Muhammad Hamdani, saya ambruk. Jatuh dan muntah darah. Setengah liter mungkin darahnya, merah kehitaman. Darah saya berceceran di lantai kost Hamdani. Hamdani segera mengontak Anto yang memiliki mobil, untuk mengantarkan ke rumah saya.

Sampai di rumah, ibu saya panik dan segera membawa saya ke RSTP (Rumah Sakit Tubercola dan Paru-paru) di Cisarua. Terima kasih untuk Hamdani dan Anto, kalian sungguh teman baik saya.

Tujuh belas hari saya dirawat di RSTP, 114 teman yang menjenguk saya (saya buat buku tamu dan teman ke-100 yang membesuk, saya beri hadiah cokelat silver queen).

Tekad dan Titik Perubahan

Saya pulang dan mendapat hadiah sebuah buku, Seven Habbits of Haighly Effective People. Saya terperangah, saya tergugah.

“Bukan kondisi yang menentukan kualitas hidup seseorang, melainkan bagaimana dia menghadapi kondisi tersebut”

Itu kata Stephen R. Covey, penulisnya. Saya baca sampai 4 kali buku itu, dan sejak itu saya bertekad untuk mengubah hidup saya dan menyatakan bahwa harga diri saya bukan diukur dari IPK. Saya baca buku lain yang menggugah, Anthony Robbins, Norman Vincent Peale, dan lainnya.

Ada yang menggelegak dalam dada saya untuk dikeluarkan. Kemarahan yang tadinya membuncah dalam dada, perlahan menjadi energi yang menggerakan tangan dan pikiran saya untuk mengubah kemarahan itu terangkai menjadi kata-kata. Bertahun-tahun saya menjadi sangat gila membaca, melahap pemikiran orang. Buku seperti obat bagi saya. Saya lega, ketika setiap emosi, kemarahan, kegalauan yang saya rasakan akhirnya tertuang menjadi kalimat, terangkai menjadi paragraf dan terakumulasi menjadi sebuah pemikiran. Saya kumpulkan terus pemikiran-pemikiran tersebut.

Tahun 2002, saya mengajukan pemikiran saya yang sudah menjadi buku ke penerbit PT Elexmedia Komputindo. Saya ditolak mentah-mentah, karena bahasa yang saya gunakan adalah bahasa gaul. Saya diminta kembali 1 tahun kemudian.

cover_ampuh

Setahun kemudian saya mengajukannya, dengan segala macam perbaikan. Buku pertama saya akhirnya diterima untuk diterbitkan pada bulan September 2002.

Sabtu, 21 September 2002 di Koran Kompas, pada saat usia saya 28 tahun, buku pertama saya, AMPUH: Menjadi Cerdas Tanpa Batas yang berisi pengalaman saya kuliah di IPB dan drop out, menjadi buku paling laku no.2, di bawah Undang-Undang Dasar dan GBHN (karena buku ini biasanya diwajibkan).

Saya sujud syukur. Ternyata kemarahan yang begitu mendominasi hati saya, bertransformasi menjadi sebuah buku yang diterima dengan sangat baik oleh masyarakat. Yang lebih menyenangkan adalah buku tersebut dilaunching di IPB, kampus yang telah menganggap saya mati, tidak pantas, tidak layak untuk melanjutkan studi. Sangat menyenangkan dan memuaskan ketika saya bisa sharing tentang bagaimana menjadi cerdas di kampus yang menganggap saya tidak cerdas.

Saya melanjutkan studi di kampus Universitas Pakuan, menjadi Mahasiswa Cemerlang, dan wusidawan dengan IPK tertinggi. Saya kemudian mendapat beasiswa dari Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga untuk menyelesaikan kuliah di Pascasarjana Universitas Indonesia.

Saya kini mengelola Helmy Yahya House of Idea dan bekerja di bidang kreatif pada rumah produksi PT Triwarsana. Pekerjaan yang tidak menuntut kepintaran, tapi menuntut kelenturan berpikir. Menulis menjadi pekerjaan utama saya saat ini, dan kini sedang menyelesaikan beberapa buku dengan Helmy Yahya dan Ade Rai.

Walaupun saya merasa tidak terlalu pintar, saya yakin bahwa semua orang pada dasarnya pintar. Cara mengajar pendidiknya yang kemudian mengklasifikasikan satu orang siswa lebih bodoh dari siswa yang lain.
Pintar bisa dibatasi oleh dosen, cerdas adalah pilihan.

Tamat.

,

21 Comments

%d bloggers like this: