Harga Diri bukan diukur oleh Indeks Prestasi


DISCLAIMER:

Karena banyak yang mengira saya yang menulis artikel ini, maka saya tegaskan bahwa bukan saya yang menulis. Saya hanya co-pas dari blog twentea.com.

Selamat menikmati 🙂

 

http://www.twentea.com/2009/01/19/pemenang-1-riak-hadiah-harga-diri-bukan-diukur-oleh-indeks-prestasi/

Pemenang 1 Riak Hadiah: Harga Diri Bukan Diukur Oleh Indeks Prestasi

Senin, 7 Agustus 1995, sehari setelah ulang tahun saya yang ke-21, berkumpul orang-orang di depan Aula Kantor Pusat (AKP), IPB, melihat pengumuman kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Beberapa orang memberikan selamat kepada saya. “Selamat ulang tahun”, “Panjang umur ya…” Saya dengan biasa menyambut mereka. Mengucapkan terima kasih. Fokus saya tertuju pada pengumuman di tembok gedung AKP.

Melihat papan pengumuman dan mengurut no. registrasi mahasiswa, saya berhenti pada G.290071—itu nomor mahasiswa saya—Program Studi Ilmu Komputer,  jari saya bergerak ke kanan dan menemukan kata-kata: KELUAR….!
DROP OUT… DROP OUT.

Beneran, saya DROP OUT dari IPB.

Dunia rasanya gelap, perut mual, saya limbung. Membaca sekali lagi, dan kata-kata KELUAR masih tertulis disitu. Saya DROP OUT. Seumur hidup saya, inilah hadiah ulang tahun yang paling “mengesankan”.

Segera saya datangi Pak Andi Hakim Nasution (sudah almarhum),  Dekan FMIPA saat itu. Apa yang beliau bilang?

“Orang-orang seperti kamu tidak pantas kuliah di IPB”

Saya makin limbung.

Saya datangi Bapak Julio, dosen Bahasa Pemrograman yang memberikan nilai F, dan membuat nilai indeks prestasi kumulatif saya menjadi 1.98, hanya kurang 0.02 untuk selamat dan tidak drop out. Apa yang Pak Julio bilang?

“Saya juga dulu drop out waktu kuliah di Inggris…”

Saya bingung. Apakah masalah pribadi bisa ditimpakan kepada orang lain?

Saya datangi Bapak Abdurrauf Rambe, Ketua Jurusan. Saya protes karena teman saya—Tulus—yang menggunakan kursi roda, ternyata ‘selamat’, dan mendapatkan dispensasi untuk tetap kuliah, tidak jadi drop out. Pak Rambe hanya bilang (ini juga yang menyakitkan saya),

“Tulus itu cacat (dia menggunakan sepeda motor berdoa tiga dan tongkat kalau kuliah-red), kamu mau disamakan dengan orang cacat. Sebenarnya IPB tidak layak menerima mahasiswa cacat seperti dia…”

Saya marah!
Marah semarah-marahnya, bagaimana mungkin seorang pendidik mengucapakan kata-kata menyakitkan seperti itu.

Sejak itu, saya mengubah pola berpikir saya, bukan saya yang tidak layak kuliah di IPB, tapi IPB tidak layak menjadi tempat saya menuntut ilmu; dengan pola pikir pengajar yang menganggap orang-orang yang memiliki handicap, baik fisik maupun kepintaran, dikatakan tidak semestinya ada di IPB.

Sejak itu saya tidak lagi berusaha untuk menjadi mahasiswa IPB. Saya tidak mau memaksakan diri meminta rekomendasi ini dan itu, agar selamat dari IPB, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang teman saya yang memiliki sanak saudara yang menjadi pejabat di IPB.

Saya Pulang

Saya bersimpuh di pangkuan orang tua, menangis sejadi-jadinya. Menangis karena telah melukai dan membuat kecewa hati orang tua yang mengerahkan segenap tenaga untuk membiayai kuliah saya di IPB. Dari 7 anaknya, saya adalah anak ke-dua yang bisa melanjutkan pendidikan hingga tingkat sarjana.

Besoknya saya mendatangi Bapak Ansroi Mattjik (sekarang Rektor IPB), dan meminta untuk diberikan transkrip agar bisa melanjutkan studi di perguruan tingggi lain.

Dua minggu saya mencari kampus, dengan uang seadanya, saya naik kereta ke Jogya, menuju kampus UGM, INSTIPER, ke Solo menuju UNS, kemudian ke Malang menuju UNIBRAW, dan ke Bandung menuju IKIP (sekarang UPI).

Pulang dari Bandung, saya ke tempat kost kawan saya, Muhammad Hamdani, saya ambruk. Jatuh dan muntah darah. Setengah liter mungkin darahnya, merah kehitaman. Darah saya berceceran di lantai kost Hamdani. Hamdani segera mengontak Anto yang memiliki mobil, untuk mengantarkan ke rumah saya.

Sampai di rumah, ibu saya panik dan segera membawa saya ke RSTP (Rumah Sakit Tubercola dan Paru-paru) di Cisarua. Terima kasih untuk Hamdani dan Anto, kalian sungguh teman baik saya.

Tujuh belas hari saya dirawat di RSTP, 114 teman yang menjenguk saya (saya buat buku tamu dan teman ke-100 yang membesuk, saya beri hadiah cokelat silver queen).

Tekad dan Titik Perubahan

Saya pulang dan mendapat hadiah sebuah buku, Seven Habbits of Haighly Effective People. Saya terperangah, saya tergugah.

“Bukan kondisi yang menentukan kualitas hidup seseorang, melainkan bagaimana dia menghadapi kondisi tersebut”

Itu kata Stephen R. Covey, penulisnya. Saya baca sampai 4 kali buku itu, dan sejak itu saya bertekad untuk mengubah hidup saya dan menyatakan bahwa harga diri saya bukan diukur dari IPK. Saya baca buku lain yang menggugah, Anthony Robbins, Norman Vincent Peale, dan lainnya.

Ada yang menggelegak dalam dada saya untuk dikeluarkan. Kemarahan yang tadinya membuncah dalam dada, perlahan menjadi energi yang menggerakan tangan dan pikiran saya untuk mengubah kemarahan itu terangkai menjadi kata-kata. Bertahun-tahun saya menjadi sangat gila membaca, melahap pemikiran orang. Buku seperti obat bagi saya. Saya lega, ketika setiap emosi, kemarahan, kegalauan yang saya rasakan akhirnya tertuang menjadi kalimat, terangkai menjadi paragraf dan terakumulasi menjadi sebuah pemikiran. Saya kumpulkan terus pemikiran-pemikiran tersebut.

Tahun 2002, saya mengajukan pemikiran saya yang sudah menjadi buku ke penerbit PT Elexmedia Komputindo. Saya ditolak mentah-mentah, karena bahasa yang saya gunakan adalah bahasa gaul. Saya diminta kembali 1 tahun kemudian.

cover_ampuh

Setahun kemudian saya mengajukannya, dengan segala macam perbaikan. Buku pertama saya akhirnya diterima untuk diterbitkan pada bulan September 2002.

Sabtu, 21 September 2002 di Koran Kompas, pada saat usia saya 28 tahun, buku pertama saya, AMPUH: Menjadi Cerdas Tanpa Batas yang berisi pengalaman saya kuliah di IPB dan drop out, menjadi buku paling laku no.2, di bawah Undang-Undang Dasar dan GBHN (karena buku ini biasanya diwajibkan).

Saya sujud syukur. Ternyata kemarahan yang begitu mendominasi hati saya, bertransformasi menjadi sebuah buku yang diterima dengan sangat baik oleh masyarakat. Yang lebih menyenangkan adalah buku tersebut dilaunching di IPB, kampus yang telah menganggap saya mati, tidak pantas, tidak layak untuk melanjutkan studi. Sangat menyenangkan dan memuaskan ketika saya bisa sharing tentang bagaimana menjadi cerdas di kampus yang menganggap saya tidak cerdas.

Saya melanjutkan studi di kampus Universitas Pakuan, menjadi Mahasiswa Cemerlang, dan wusidawan dengan IPK tertinggi. Saya kemudian mendapat beasiswa dari Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga untuk menyelesaikan kuliah di Pascasarjana Universitas Indonesia.

Saya kini mengelola Helmy Yahya House of Idea dan bekerja di bidang kreatif pada rumah produksi PT Triwarsana. Pekerjaan yang tidak menuntut kepintaran, tapi menuntut kelenturan berpikir. Menulis menjadi pekerjaan utama saya saat ini, dan kini sedang menyelesaikan beberapa buku dengan Helmy Yahya dan Ade Rai.

Walaupun saya merasa tidak terlalu pintar, saya yakin bahwa semua orang pada dasarnya pintar. Cara mengajar pendidiknya yang kemudian mengklasifikasikan satu orang siswa lebih bodoh dari siswa yang lain.
Pintar bisa dibatasi oleh dosen, cerdas adalah pilihan.

Tamat.

,

  1. #1 by nilam on January 24, 2009 - 5:08 am

    nice.thx. i wonder, if i give it to my bf, will he get upset? belom DO c..tp terancam

  2. #2 by havban on January 24, 2009 - 5:12 am

    haha.. do as you wish.. 😀

  3. #3 by nilam on January 24, 2009 - 6:09 am

    sebagai sesama anak ipb, harusnya hatinya terusik…kkk jahat bet gw..! ;1

  4. #4 by tieas on December 31, 2009 - 12:27 pm

    luarrrr biasa..! suatu hal yg mendesak-desak keluar dr kepala sy sjak dulu tnyata telah anda tuliskan dgn bgt apik..saya merasa trwakili.sy sgat-sngt-sgt stuju dgn anda..inspiratif & menggugah.

  5. #5 by havban on December 31, 2009 - 4:44 pm

    @tieas
    bukan saya yang nulis kok mba.. 😀

    um.. syukurlah kalau kita sama2 setuju ^^

  6. #6 by derwan dani on February 26, 2010 - 1:03 am

    Terima kasiha atas insfirasinya mas, saya sendiri saat ini teramcam DO dari ekstensi IPB Ilkom.. semoga DO bukan sebuah patokan kemampuan… tapi DO hanyalah standar kampus yang saya sendiri tidak begitu setuju dengan hal itu.. karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing… peraturan kampus bukan membuat mahasiswa kreatif tapi membuat mahasiswa berfola pikir sempit… hanya mengejar IPK(nilai tinggi) tanpa memikirkan akan jadi apa setelah lulus dan hrus bagaimana… salam hangat selallu mas dari Mhasiswa yang terancam DO.

    • #7 by havban on February 7, 2011 - 3:27 pm

      ternyata udah lama juga komentar ini.. hehe

      iya.. semoga setelah setahun ini mas Derwan Dani sudah selamat dari ancaman DO ^_^

  7. #8 by Jamar on February 7, 2011 - 3:23 pm

    thanks bgt atas sharing ny.
    sblmnya saya bsa sampai ke tulisan ini mngkn karena shock melihat krs ipb saya ditutup dengan alasan ipk<1.5. *what the?
    saya sndri bingung pengecekan yang benar lewat mana. saya msh tpb selesai semester 1. mdh"n saya dpt yg terbaik. amin. hhe

    • #9 by havban on February 7, 2011 - 3:27 pm

      sama2 bro..
      memang inspiratif sekali cerita ini.. 🙂

      semoga selalu lebih baik dan baik lagi..
      .
      .
      .
      NB: btw.. nama ente kayak nama obat kuat.. Minyak Firdaus.. hahaha *no offence* 😀

  8. #10 by Dimas on February 7, 2011 - 11:06 pm

    Sama seperti jamar, saya juga begitu.
    semoga ada ke ajaiban .amin. .

    • #11 by havban on February 7, 2011 - 11:13 pm

      amin.. insya Allah yg terbaik..

  9. #12 by Laras Permatasari on January 21, 2014 - 9:00 pm

    Sebagai mahasiswa IPB, saya jadi merasa sangat termotivasi membaca artikel ini… semoga IPB sadar, jangan asal main drop out aja

    • #13 by havban on January 31, 2014 - 5:14 am

      mungkin kita harus berhenti menyalahkan orang lain atas keadaan kita.. justru karena IPB mendrop out beliau lah jalan lain terbuka.. 🙂
      di balik kesulitan.. ada imbalan yang besar juga dibaliknya..

  10. #14 by runD on February 7, 2014 - 5:55 am

    Wah luar biasa pak! Mantap! Inspiratif! Setuju sekali dengan quote anda Pak =)
    Mungkin sekedar info, bisa dibaca link berikut, hehehe:
    babansarbana[dot]com/surat-dari-malaysia-pak-dosen-killer-diinsyafin-tukang-bakso/

  11. #15 by Auliya maharani on July 11, 2014 - 1:53 pm

    Makasih ka atas sharing dan motivasinya saya dan 4 teman saya juga memiliki ipk kurang dri 1,70 dan kami DO di ipb kita butuh saran kaka kita harus gmna?

    • #16 by havban on July 11, 2014 - 3:00 pm

      Salam kenal Auliya,

      Sebenarnya.. ini bukan tulisan saya. Saya hanya copy paste dari artikel yang ada, dan tautan aslinya saya pasang di atas.

      Turut sedih juga soal kabar DO-nya.. tapi, coba kamu lihat dari sisi positifnya. Mungkin.. kamu memang dari awal kurang minat kuliah di IPB, di jurusan yang kamu ikuti… Coba lihat bahwa ini adalah tanda dari Yang Maha Kuasa, yang menginginkan kamu menemukan jalan yang sesuai dengan apa yang kamu sukai, supaya kamu bisa secara total sepenuh hati melakukan sesuatu yang lain yang kamu memang sukai tadi itu.

      Gagal/DO/putus cinta, bukan akhir segalanya.. nanti saat kamu lebih dewasa, dan melihat ke belakang.. kamu akan bisa tersenyum lebar melihat pengalaman kamu waktu dulu, dan kamu bisa melewati itu dengan baik. 🙂

      Coba jujur dengan orang tua.. ajak bicara baik-baik.. tidak apa marah, wajar malah.. kalau tidak marah, berarti ada yang aneh. Mereka gak akan berubah rasa sayangnya ke kamu, asalkan kamu memang tulus mengatakan maaf sudah mengecewakan, dan kamu tidak menyerah/berhenti untuk mencari tau tempat apa yang sebenarnya cocok untuk kamu. Bermanfaat bagi kamu sendiri dan orang lain.

      Coba perbanyak koneksi dan bersikap terbuka.. semakin banyak teman, semakin banyak koneksi, semakin cepat kamu bisa mencari jalan yang tepat..

      Semangat selalu ya 🙂

  12. #17 by rima dewi putri on July 11, 2014 - 2:07 pm

    Saya baru saja mengalaminya hari ini. Saya dan temen saya senasib dengan saya yang dinyatakan DO hari ini. Saya tidak siap untuk mengasih kabar ke orangtua saya apalagi menerima pahit nya kabar DO di bulan ramadhan yg penuh berkah trnyata saya dpt berkah seperti ini

    • #18 by havban on July 11, 2014 - 3:01 pm

      Salam kenal Rima,

      Tadi saya sudah jawab di pertanyaan Aulia.. kamu temannya ya? tapi saya salin lagi di sini..

      Sebenarnya.. ini bukan tulisan saya. Saya hanya copy paste dari artikel yang ada, dan tautan aslinya saya pasang di atas.

      Turut sedih juga soal kabar DO-nya.. tapi, coba kamu lihat dari sisi positifnya. Mungkin.. kamu memang dari awal kurang minat kuliah di IPB, di jurusan yang kamu ikuti… Coba lihat bahwa ini adalah tanda dari Yang Maha Kuasa, yang menginginkan kamu menemukan jalan yang sesuai dengan apa yang kamu sukai, supaya kamu bisa secara total sepenuh hati melakukan sesuatu yang lain yang kamu memang sukai tadi itu.

      Gagal/DO/putus cinta, bukan akhir segalanya.. nanti saat kamu lebih dewasa, dan melihat ke belakang.. kamu akan bisa tersenyum lebar melihat pengalaman kamu waktu dulu, dan kamu bisa melewati itu dengan baik. 🙂

      Coba jujur dengan orang tua.. ajak bicara baik-baik.. tidak apa marah, wajar malah.. kalau tidak marah, berarti ada yang aneh. Mereka gak akan berubah rasa sayangnya ke kamu, asalkan kamu memang tulus mengatakan maaf sudah mengecewakan, dan kamu tidak menyerah/berhenti untuk mencari tau tempat apa yang sebenarnya cocok untuk kamu. Bermanfaat bagi kamu sendiri dan orang lain.

      Coba perbanyak koneksi dan bersikap terbuka.. semakin banyak teman, semakin banyak koneksi, semakin cepat kamu bisa mencari jalan yang tepat..

      Semangat selalu ya 🙂

  13. #19 by rima dewi putri on July 11, 2014 - 11:33 pm

    Terimakasih atas respon dan motivasinya ya bapaak, iya saya dan auliya teman yang senasib.Sebenearnya bukan masalah jurusan tetapi masa TPBnyaa

  14. #20 by Fie on September 22, 2014 - 5:43 pm

    Saya dulu juga DO (tapi sengaja) karena benar2 tidak bisa lanjut di salah satu jurusan, IPK dibawah 2.
    Sekarang udah dapet kuliah di jurusan lain yg sangat pas di kampus yg sama di malang. Dan saya bener2 sangat bersemangat kuliah.
    Tp tiba-tiba pagi tadi salah seorang saudara bilang ke ibu saya “Habis DO kok kuliah lagi” dg nada yg amat meremehkan, dimana saudara saya tsb dulu meminjami uang untuk kuliah saya yg pertama. Sedih rasanya denger itu dari ibu, padahal kuliah saya yg sekarang sebagian membayar dari penghasilan bisnis kecil2an saya.
    Setelah baca2 artikel tentang DO di google akhirnya saya termotivasi lagi untuk lebih berkarya 🙂

    • #21 by havban on September 28, 2014 - 9:44 am

      semangat mba.. DO bukan akhir dari segalanya.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: